Berikut ini Pengertian Zakat Fitrah dan Ketentuannya

By | June 4, 2019

Ashaqil, Berikut ini Pengertian Zakat Fitrah dan Ketentuannya – Tahukah Anda artikel yang kami bahas tentang Pengertian Zakat Fitrah ini ?, Jika Anda belum mengetahuinya, ikuti dan baca yang kami rangkum dari beberapa sumber dan Anda tepat sekali mengunjungi artikel ini. Karena pada kesempatan kali ini kami berikan informasi menarik dan seputar informasi, kami akan mengulas tentang Pengertian Zakat Fitrah dan Ketentuannya. Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan atas setiap jiwa baik lelaki dan perempuan muslim yang dilakukan pada bulan Ramadhan memasuki saat futur (berbuka puasa) pada Idul Fitri. Oleh karena itu, marilah simak penjelasan mengenai Pengertian Zakat Fitrah secara lengkap yang ada dibawah berikut ini.

Zakat

Apakah Zakat Fitrah itu? Zakat juga dikenal sebagai Shadaqah Fitrah, yang adalah jenis Zakat yang harus dibayarkan sebelum Shalat Idul Fitri. Selain itu zakat Fitrah juga disebut Zakat Al-Badan (Zakat Badan) dan Zakat Al-Ra’s (Zakat kepala).

Zakat Fitrah juga sebagai usaha untuk membersihkan seorang Muslim dan Muslimah dari segala kekurangan atau tindakan kurang baik selama puasa Ramadhan. Sebagai tambahan, Zakat Fitrah diberikan kepada orang fakir dan miskin di saat bulan Ramadhan, agar mereka dapat merayakan kedatangan Eid dengan kebahagian dan bebas dari pikiran akan apa yang akan dimakan kelak.

Hadits berikut ini juga sebagai bukti bahwa Zakat Fitrah bukan hanya untuk meringankan beban mereka yang fakir dan miskin, namun juga sebagai penolong membersihkan dosa yang mungkin kita telah lakukan selama Ramadhan.

Ibn ‘Abbas (Radiyallahu Anhu) meriwayatkan; “Bahwa Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) memerintahkan membayar Zakat Fitrah bagi mereka yang berpuasa (Berpuasa saat di bulan Ramadhan) untuk menyucikan dirinya dari perbuatan dan perkataan apapun dan dengan tujuan menyediakan makanan bagi yang membutuhkan. Diterima sebagai Zakat bagi seseorang yang membayarnya sebelum Shalat Ied dan sebagai Shadaqah bagi mereka yang membayarkannya setelah Shalat Ied”. (Abu Dawud).

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma; beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, sebagai penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan yang menggugurkan pahala puasa serta dari perbuatan atau ucapan jorok, juga sebagai makanan bagi orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka statusnya hanya sedekah biasa”. (Hr. Abu Daud, no.1611).

Siapa saja yang harus membayar zakat Fitrah?

Zakat Fitrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim dan Muslimah dewasa atau anak-anak terlepas apapun jenis kelaminnya, sejauh mereka memiliki cukup makanan untuk mereka selama sehari atau lebih. Kepala keluarga membayar untuk setiap anggota keluarga.

Rasulullah mewajibkan kaum Muslimin, baik manusia merdeka maupun budak, lelaki dan perempuan, anak kecil hingga dewasa.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, berupa satu sha’ kurma kering atau gandum kering. (Kewajiban) ini berlaku bagi kaum muslimin, budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa ….” (Hr. Al-Bukhari, no. 1433; Muslim, no. 984).

1. Harus Beragama Islam

Zakat Fitrah hanya berlaku bagi Muslim dan sebagai usaha membersihkan dirinya dari perbuatan-perbuatan yang mengotori ibadah puasanya selama Ramadhan. Maka ibadah ini tidak berlaku bagi orang kafir. Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni 5:469 adalah sebagai berikut: “Zakat fitri tidak wajib bagi orang kafir, baik merdeka maupun budak. Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara ulama tentang tidak wajibnya zakat untuk orang kafir merdeka dan balig”. (Al-Mughni, 5:469).

2. Harus Dalam keadaan mampu

Mengenai masalah mampu, maka terjadi perbedaan pendapat antara para ulama sebagai berikut perinciannya.

Pertama, Ulama Hanafi dan Kufah mengatakan bahwa ukuran mampu seseorang yang wajib membayar zakat fitrah adalah memiliki sisa dari kebutuhan hidupnya, sebanyak satu nishab zakat harta (Yakni 85 gram emas) atau juga senilai dengan 85 gram emas. Dan sebagian ulama Hanafiyah mengatakan bahwa orang yang punya harta kurang dari 85 gram emas diperbolehkan untuk membayar zakat fitrah. Akan tetapi pendapat ini dianggap tidak tepat, karena acuan “mampu” pada zakat fitrah berbeda dengan acuan mampu di zakat penghasilan.

Kedua, sedangkan umumnya pendapat ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan Hanabillah mengatakan bahwa ukuran mampu seseorang adalah apabila dirinya memiliki sisa makanan untuk dirinya beserta keluarganya pada malam hari raya dan keesokan paginya, maka sudah tergolong mampu, dan kena kewajiban membayar zakat fitrah. Seperti sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Shahbihi Wa Sallam: “Barangsiapa yang meminta, namun dia mempunyai hal yang mencukupi kebutuhannya, maka dirinya telah memperbanyak api neraka (untuk membakar dirinya kelak)”.

Lalu sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ukuran ‘sesuatu yang mencukupinya’ (sehingga tidak boleh meminta)?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menjawab, “Dia sudah mempunyai hal yang dapat mengenyangkan (dirinya beserta keluarganya, pen.) selama sehari-semalam”. (Hr. Abu Daud).

Sedangkan ketika Imam Ahmad di tanya mengenai kapan seorang dianggap wajib membayar zakat fitrah? Beliau menjawab apabila dirinya mempunyai sisa makanan satu hari maka dirinya wajib berzakat”. (Al-Masail Ishaq An-Naisaburi).

Kepada siapa Zakat Fitrah itu diberikan?

Zakat Fitrah diberikan kepada mereka yang pantas untuk menerimanya. Dan Al Qur’an telah mendaftarkan delapan golongan yang berhak menerima zakat tertulis dalam Surat At-Taubah ayat 60.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. [Al-Quran 9:60].

Kapan Zakat Fitrah diberikan?

Zakat Fitrah dapat dibayarkan di awal bulan ramadhon dan beberapa hari terakhir bulan Ramadhan, dan harus sudah tunai diberikan sebelum Shalat Idul Fitri, jika sudah lewat waktu Shalat Idul Fitri maka bukan lagi Zakat Fitri melainkan Sodaqoh.

Seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas (Radiyallahu Anhu), bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa memberikannya sebelum Shalat (Idul Fitri) maka adalah Zakat, dan barangsiapa yang memberikannya setelah Shalat (Idul Fitri) maka disebut Sodaqoh”. (Sunan Abu Dawood).

Hukum Zakat Fitrah

Hukum membayar Zakat Fitrah adalah wajib bagi setiap Muslim baik pria dan wanita, dewas atau dibawah umur, sejauh mereka memiliki kemampuan untuk itu.

Dalil bahwa Zakat Fitrah adalah Wajib dapat ditemui dalam Sunnah dimana Abdullah Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam bersabda:

Dari Abdullah bin Umar radiallahu ‘anhuma; beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, berupa satu sha’ kurma kering atau gandum kering. (Kewajiban) ini berlaku bagi kaum muslimin, budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa. Beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang berangkat shalat.” (Hr. Al-Bukhari, no. 1433; Muslim, no. 984).

Apa yang dibayarkan dalam Zakat Fitrah?

Dalam al-Saheehayn diriwayatkan bahwa Abu Said Al Khudri (Radiyallahu Anhu) bersabda:

“Di zaman Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Sallam), kami biasa memberikannya dengan takaran satu sha’ makanan, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ keju, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ kismis….”.

Sejumlah Ulama menafsirkan makanan dalam diatas sebagai makanan pokok, sedangkan yang lain mengartikan gandum.

Tujuan utama dari Zakat Fitrah adalah menolong mereka yang membutuhkan, dan menyarankan agar membayarnya dalam bentuk bahan pokok lokal makanan di yang dikonsumsi menurut negara atau daerah.

Berapa banyak yang dibayarkan saat zakat fitrah / ketentuan zakat fitrah
Jumlah satu sha’ yang Nabi praktikan di Madinah jumlah sekitar (setara dengan) 3 KG beras, gandum, sereal dan lainnya atau berat yang setara yang dapat diberikan sebagai Zakat Fitrah.

Kesetaraan dari beras yang diberikan untuk zakat fitrah harus setara dengan yang dikonsumsi setiap harinya. Tentu saja kita dapat memberikan lebih dari itu dan andapun juga dapat memberikan makanan tambahan lainnya bahkan uang.

Kesimpulan

Zakat Fitrah merupakan perkara wajib bagi setiap Muslim yang harus ditunaikan menurut waktu ditentukan, yakni sebelum Shalat Idul Fitri. Dan merupakan ibadah bersifat derma dimana sebagai penghubung antara mereka yang mampu dan yang tidak mampu, dan orang tidak mampu dengan yang lebih tidak mampu lagi, dan mengikis kemiskinan dan mengurangi perbedaan antara yang kaya dan miskin.

Baca juga Manfaat Sedekah yang Paling Utama Datangkan Berkah Dan Rezeki

Demikian yang dapat kami Ashaqil bagikan, tentang artikel ini Berikut ini Pengertian Zakat Fitrah dan Ketentuannya, dimana sekiranya informasi ini berguna bagi Anda. Sekian dan terima kasih telah membaca dan mengunjungi www.ashaqil.com, semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di artikel religi berikutnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *